August 25, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 41

Keledai dan Majikannya

Seorang majikan mempunyai seekor keledai. Majikan tersebut adalah seorang yang kejam karena selalu membebani keledainya melebihi muatan. Setiap hari sebatan demi sebatan bertubi-tubi diterima keledai itu di bagian punggungnya, apalagi keledainya berjalan lambat. Sering keledainya
terpaksa berlutut karena tak tahan membawa beban. Pada saat membawa gula berkarung-karung melintasi sungai, keledainya tergelincir. Kemudian majikannya menyebatkan cambuknya ke punggung keledai itu. Dengan terpaksa keledai itu berdiri mencoba untuk bangkit, tetapi akhirnya ia terjerumus ke sungai bersama beban yang di punggungnya. Majikan yang kejam itu mengalami kerugian besar tetapi akibat kekejamannya.

August 11, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 40

Harimau Bertemu Kancil

Seekor harimau tua dan tidak kuat lagi untuk mencari mangsa sedang berbaring di mulut sebuah gua temapt tinggalnya. Pada waktu itu seekor pelanduk melintas dari depannya.” Aku cuma sendiri kesepian dan alangkah senangnya kalau ada teman bercerita tentang pengalaman atau pengetahuan”. “ saya takut nanti kunjungan ku akan membuat diriku kecewa”, kata pelanduk itu.” Oh, saya kan sudah tua dan tidak berdaya lagi melukaimu, lagi pula engkau bisa saksikan begitu banyak bekas telapak kaki para pengunjungku”.

“ya, benar”, kata pelanduk itu.” Saya melihat memang banyak telapak kaki bekas pengunjung ke arah mu, tetapi saya tidak melihat ada telapak yang menuju keluar ini”. Dasar harimau, sampai tua juga tetap harimau.

August 06, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 39

Kijang dan Kancil

Pada suatu hari seekor kijang berjalan-jalan di tepi sungai, kijang itu memiliki tanduk yang cantik dan dia mengaguminya ketika bayangannya terpantul oleh air sungai yang jernih. Tiba-tiba seekor kancil muncul dan menghampirinya, ia berkata:” apa yang engkau lihat wahai kijang?” kijang itu berkata:” apakah tidak engkau perhatikan betapa cantiknya tandukku yang menghiasi kepalaku? Lihatlah! Apakah engkau tidak melihat kea air yang jernih ini?”.” Aku tidak perlu memiliki tanduk di kepala seperti engkau”. Kata kancil.” Mengapa?” Tanya kijang itu.” Karena tubuhku kecil, mana mungkin aku bisa membawa beban berat di kepalaku.” Jawabnya. Pada saat itu dari jauh terdengar teriakan pemburu segerombolan anjing bergegas datang dan menyerbu mereka.

Kancil dan kijang kabur untuk menyelamatkan diri sesampainya di sebuah lubang, kancil masuk dan bersembunyi, sedang kijang terjerat oleh akar-akar pohon pada tanduknya. Akhirnya kijang yang malang menjadi korban para anjing itu. Ternyata tidak selamanya apa yang kita banggakan memberi manfaat, sekali waktu dapat juga menjerumuskan kita

August 05, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 38


Kera dan Harimau

Pada suatu hari seekor kera duduk di dahan pohon yang tinggi. Di bawah pohon itu ada seekor harimau yang lagi berbaring. Kera itu paham benar bahwa seekor harimau tidak dapat memanjat. Timbul maksud hati kera untuk memanfaatkan momen ini untuk mengejek harimau. Mulailah kera itu memancing emosi harimau itu dengan berkata:” hai raja hutan! Ternyata aku lebih tinggi dari engkau”. Mendengar ucapan kera itu harimau menjadi tersinggung, namun dia tidak memperlihatkan kemarahannya bahkan sebaliknya ia bersikap acuh saja. karena harimau itu tidak memperlihatkan reaksi apa-apa sekarang kera yang berbalik marah-marah. Harimau tersebut membiarkan kera memuaskan kemarahannya. Karena usahanya untuk membangkitkan kemarahan harimau itu tidak berhasil, akhirnya kera itu berkata:” Oh, harimau, akhirnya saya berhasil membuat kamu kesal”, harimau menjawab:” bukan engkau yang membuatku kesal, akan tetapi ketinggian pohon ini yang justru membuatnya.

July 11, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 37

Kucing Yang Malang

Rumah Tulus berdampingan dengan sekolahnya. Apabila pulang dari sekolah, ia selalu membantu pekerjaan di rumah seperti; mengangkat air, membelah kayu, ,menyapu halaman dan sebagainya. Pussi adalah nama kucing Pak Sadikin, selalu bermain kerumah Tulus ketika Pak Sadikin memberi les sore kepada murid kelas enam.

Pada suatu hari, Tulus mengampak kayu untuk ibunya, tiba-tiba Pussi melompat kedepannya pada saat ia mengangkat kampaknya. Namun ia tidak dapat menghindarkan kucing itu, sehingga kucing itu terpotong oleh kampaknya. Tulus mengenal benar bahwa itu adalah kucing gurunya. Ia berdiri memandang kucing yang malang itu. Ia menangis dan kawan-kawannya datang dan berkata “ sudahlah lus, kata Tono, kita buang saja bangkai kucing itu kesungai”.”benar, lus” kata sebahagian lainya.” Kalau tidak kita letakkan saja ditengah jalan”. Muka Tulus menjadi merah karena marah.”Tidak!, Tidak!”, teriaknya. Dia membawa bangkai kucing itu ke rumah Pak Sadikin. Teman –temannya mengikutinya dan mau melihat apa yang akan terjadi.

Pak Sadikin memperhatikan kucing itu dan berkata:” apa yang terjadi?”. Sejenak Tulus terdiam dan menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia berterusterang.” Pak guru, kucing bapak kena kampak saya ketika saya membelah kayu”.” Saya tidak sengaja pak”, kata Tulus”, “saya sangat menyesal mengapa Pussi tiba-tiba melompat kearah kampak saya dan saya tidak bisa menghindarinya”.

Semua temannya ,menduga Pak Sadikin pasti marah.”Sudahlah Tulus”, kata pak guru.”Bapak mengerti bahwa itu hal yang tidak disengaja dan bapak bangga murid bapak seorang yang jujur dan pemberani”

Blog Advertising

July 10, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 36

Berani Bertanggungjawab

Pada suatu hari Teddy bermain bola di jalan bersama beberapa orang temannya. Mereka menggunakan jalan itu sebagai lapangan bola. Di kiri kanan jalan itu terdapat rumah penduduk, took-toko dan kios-kios. Tedi dan kawan-kawannya menyerang kearah oposisinya, tetapi satu tendangan keras mengenai kaca jendela took. Kawan-kawan Teddy takut dan hendak berlari, tetapi Teddy berkata:”jangan lari! Kita harus bertanggungjawab”.

Teddy melaporkan peristiwa itu kepada pemilik toko, Teddy bersedia mengganti kerusakan tersebut, tetapi ia tidak punya uang. Pemilik toko itu marah dan berkata:” kamu harus bekerja selama satu bulan di toko saya sebagai gantinya.”Baik pak,” kata Teddy. Akhirnya ia pulang dan melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya.

Setelah bekerja selama satu bulan, pemilik toko itu kembali bertanya.” Kamu anak siapa?” saya anak seorang tukang perabot, ibuku seorang pembantu rumah tangga”, katanya. “ Karena kejujuran dan keberanianmu, kamu saya jadikan pekerja tetap di toko ini.” Cobalah beritahu kepada orang tuamu, bagaimana? Baik pak”, kata Teddy.

Teddy menjelaskan kepada ibu dan ayahnya bahwa ia telah menjadi pekerja tetap di toko itu, dan mereka merestuinya.

Blog Advertising

July 09, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 35

Kantongan Emas

Widodo dan Frans hidup bertetangga selama bertahun-tahun. Walaupun Widodo orang yang kaya, tetapi dia tidak sombong. Dia orang yang setia kepada kawan, hal ini terbukti dari kesediaannya membantu tetangganya apabila memerlukan pertolongan.

Pada suatu hari Widodo pergi wisata beberapa minggu lamanya, sebelum keberangkatannya keluarga Widodo terlebih dahulu menitipkan emas perhiasan istrinya kepada Pak Frans. Mula-mula Ibu Widodo memperlihatkan gelang perhiasannya senilai 100 juta rupiah di hadapan Pak Frans, kemudian menyerahkannya lengkap dengan surat dari took.

Sekembalinya dari perjalanan, Pak Widodo dan ibunya meminta titipannya kembali, namun Pak Frans dan Ibu Frans tidak mengakui menerima titipan itu, malah Pak Frans meminta bukti tanda terima dari Pak Widodo.

Pak Widodo pergi melaporkan kasus ini kepada pengacara dan akhirnya Pak Frans di panggil ke persidangan.

Mendengar laporan ini, Pak Frans tidak tinggal diam, ia dan istrinya membuat kesepakatan. Mereka adan satu kata di depan hakim nanti. “ Alangkah cerobohnya pria itu!” kata Pak Frans, “dia tinggalkan emas sebanyak ini tanpa tanda terima”. Aku nanti akan berkata:” Pak Widodo, barang kali anda lupa, benar anda datang membicarakan sesuatu tentang emas itu, tetapi anda tidak jadi menyerahkannya, karena kami takut menyimpannya di rumah kami”.” Aku berharap engkau juga berkata seperti itu”. Kata Pak Frans kepada istrinya.”Baik”. kata istrinya.

Pada waktu siding dimulai, Pak Frans seorang diri di depan hakim, sedang istrinya berada di rumah.” Pak Frans, ada tuduhan kepada anda bahwa Pak Widodo menitipkan emas kepada anda sebelum mereka berwisata, bagaimana anda menanggapi tuduhan tersebut?” Tanya hakim.” Itu bohong sama sekali pak, kata Pak Frans”.” Baiklah”, kata hakim.” Anggaplah anda benar, tetapi saya mau membuktikan sekarang juga, bersediakah anda?”. “Bersedia, pak”, kata Pak Frans. ” Sekarang coba tulis sepucuk surat kepada istri anda yang bunyinya sebagai berikut,seraya memberikan secari kertas dan pulpen kepadanya. Isinya adalah sebagai berikut:

“Bu Tolong berikan emas yang kita simpan ( kepunyaan Pak Widodo) kepada orang yang membawa surat ini”. Ttd Frans

Pak Frans kelihatannya gelisah setelah menulis surat itu dan berkata:” mengapa tidak saya saja yang menemui istri saya, kata Pak Frans”. “ Anda sedang di ruang siding, dilarang keluar” , kata hakim.

Sejenak kemudian, petugas yang membawa surat tersebut kembalu di persidangan dengan kantongan beisi emas. “ Baiklah”, kata hakim. Pak hakim membuka kantongan itu dan benar masih lengkap dengan surat pembeliannya dari took. Dengan bukti-bukti yang ada akhirnya Pak Frans mengakui telah berbohong dan akhirnya meminta maaf kepada Pak Widodo. Pak Widodo pun menerima permohonan maafnya kemudian hakim mempersilahkan mereka untuk keluar ruang persidangan.

Blog Advertising

July 08, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 34

Anak Yang Malas

Kadar adalah seorang anak murid SD kelas 5. kedua orang tuanya sering menerima surat dari guru karena Kadar jarang masuk sekolah dan malas mengerjakan PR. Pak Wedi, sebagai guru kelas Kadar, adalah seorang guru yang tegas, bersuara serak-serak basah dan berkumis tebal. Ia menginginkan agar muridnya berdisiplin.

Suatu hari, Kadar membolos untuk menghindari PR. Ia pergi berjalan-jalan sesuka hatinya. Setelah berjalan selama 1 jam, tibalah ia dia di sebuah ladang. Ia melihat-lihat petani memanen padi. Seorang diantara mereka bertanya:” ngapain nak?”. Kadar terkejut mendengar suara itu seperti suara Pak Wedi. “ melihat-lihat pak”, jawabnya. Kemudian ia meneruskan langkahnya. Ia berlari kearah jalan yang di lalui kendaraan. Ia menaiki angkutan kota. Di AngKot itu ia lagi-lagi terkejut ketika ada seorang membawa tas dan berdasi rapi juga naik AngKot. Akhirnya ia tiba di kota, ia berjalan kian kemari di Mall. Dari jarak yang tidak begitu jauh ia melihat ada seorang yang bertubuh tegap dan berkumis. Lagi-lagi Kadar terkejut, sepertinya orang itu tampak mirip wajah Pak Wedi.

Waktu telah menunjukkan pkl 11.00 WIB. Ia pergi ke sebrang jalan dan mampir di sebuah kedai nasi. Dia memesan nasi dan minuman. Ketika ia sedang menikmati makanan yang dipesan tadi, ia mendengar suara serak-serak basah duduk disampingnya. Kembali Kadar terkejut. Akhirnya ia pulang naik angkot karena waktu sudah pkl 11.30 WIB, saatnya jam pelajaran usai dan waktunya pulang sekolah.

Setibanya di rumah, kedua orangtuanya tidak mencurigainya, karena ia pulang tepat waktu. Ia masuk kamar dan mengunci pintunya. Ia sangat lelah dan mulai menyadari bahwa membolos dari sekolah ternyata lebih menyiksa dari hadir di sekolah. Akhirnya ia bertekad mulai besok ia akan kembali bersekolah dan mematuhi guru dan orang tuanya.

Blog Advertising

July 07, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 33

Jadilah Diri Sendiri

Pak Nas memiliki seekor anjing dan seekor kuda. Apabila ia keluar rumah, anjingnya terlebih dahulu membelai-belai Pak Nas, demikian sebaliknya Pak Nas mengelus-elus punggung anjingnya. Bahkan sering anjingnya tak segan-segan berdiri diatas pangkuan Pak Nas.

Pak Nas yang setiap hari membawanya keluar rumah, tidak pernah mendapat perlakuan yang sama seperti Pak Nas membelai anjingnya. Lama kelamaan kuda itu merasa cemburu namun ia berusaha lebih keras meniru tingkah laku anjing tiu agar kuda itu memperoleh simpati dari tuannya.

Pada suatu pagi, ketika Pak Nas membersihkan kandang ternaknya, tiba-tiba kudanya menjilat-jilat wajahnya dan mengangkat kaki depannya kea rah muka Pak Nas. Tatkala Pak Nas berjongkok, kaki belakang kudanya menerjang punggungnya. Akhirnya Pak Nas terpelanting keluar kandang kudanya. Pak Nas yang hampir pingsan itu merasa heran dan akan mengadakan penyelidikan lebih jauh atas perlakuan kudanya yang tidak wajar pada hari itu.

Blog Advertising

July 05, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 32

Akhir Suatu Persahabatan


Pak Zaidan adalah seorang yang gemar berburu. Dia tidak pernah lewatkan waktu senggangnya untuk menyalurkan hobinya itu. Dengan membawa anjing dan senapang, dia pergi ke hutan. Antara dia dan anjingnya seperti berteman akrab. Telah banyak hasil buruannya yang dapat dia nikmati seperti; rusa, kancil, dan sebagainya.

Sebenarnya, Pak Zaidan juga seorang wiraswastawan, sedang istrinya adalah seorang guru SD. Mereka sudah di karuniai dua orang anak. Anak pertama seorang putera berusia tiga tahun, anak kedua berusia satu tahun.

Pada suatu hari, istri Pak Zaidan sakit. Kelihatannya istrinya memerlukan pertolongan dokter. Si kecil yang masih terus menangis semakin membuat Pak Zaidan bingung. Akhirnya Pak Zaidan pergi ke PUSKESMAS menemui dokter.

Satu jam kemudian, Pak Zaidan tiba di rumah kembali. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat darah berceceran di lantai ruang tamu rumahnya. Tanpa fikir panjang, Pak Zaidan mengambil senapangnya dan segera menembak anjingnya yang berlumuran darah. Anjing yang selama ini setia bersamanya akhirnya mati.

Perawat yang baru saja tiba dengan ambulan itu bertanya:” apa yang terjadi pak? Dimana istri bapak?” ternyata si kecil berada dalam pelukan ibunya, sedang abangnya bersembunyi di kolong tempat tidur, mereka baik-baik saja. beberapa saat sebelum Pak Zaidan tiba, telah terjadi pergelutan yang sengit antara anjingnya, dengan seekor serigala, tetapi anjing itu mampu menewaskan srigala itu dengan mengoyak-ngoyak tubuh srigala itu.

Blog Advertising

July 04, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 31

Anduhur Menjadi Balam

Aku ikut! Aku ikut!! Demikian teriakan Anduhur ketika orang tua dan saudara-saudaranya pergi ke pesta di kediaman pamannya.

Kisah Anduhur ini pada awalnya adalah sebagai berikut. Nun jauh di relung desa terpencil, hidup sebuah keluarga kecil. Anduhur adalah anak bungsu dari empat orang bersaudara. Mereka tinggal di sebuah rumah tua. Sebenarnya rumah tersebut disebut tua karena bahannya yang terbuat dari bamboo, cukup awet, tidak lapuk meskipun usianya telah puluhan tahun. Bentuk rumah itu cukup besar dan tertata rapi. Apalagi ayah Anduhur adalah seorang pengerajin bambu yang handal, tentu sangat pandai memilih bambu yang berkualitas.

Karena takdir, Anduhur menjadi seorang bertubuh kerdil dan pendek, maka tak jarang saudara-saudaranya memanggilnya ‘si cebol’. Sedang saudara-saudaranya bertubuh wajar dan normal. Kini usia Anduhur duabelas tahun dan masih tetap cebol. Meskipun Anduhur demikian keadaannya, sikap orang tuanya tidak merendahkannya. Paling-paling Anduhur selalu di suruh tinggal di rumah, membereskan perkarangan dan merebus air. Kalau Anduhur harus bergabung dengan keluarganya kemana-mana tentu dia harus di gendong.

Pada suatu ketika, paman Anduhur mengadakan pesta perkawian putrinya. Anduhur mengenal baik sepupunya itu. Sehingga, ia sangat berhasrat untuk dapat hadir di pestanya nanti. Apa boleh buat, Anduhur harus tetap berada di rumah dengan alas an tidak ada saudara-saudaranya yang sanggup menggendongnya. Ibunya yang sudah lanjut usia malah tak mungkin menggendong Anduhur. Pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju rumah pamannya.

Kini tinggallah Anduhur seorang diri di keheningan desa itu, dia duduk di emperan rumahnya. Yang terdengar hanya kicau burung bersahut-sahutan seolah ikut merasakan kepiluan hatinya. Dengan linangan air mata, ia melontarkan nyanyian; aku ikut!...aku ikut! Oh, ibu… aku ikut! Ternyata jeritan hatinya terdengar oleh seorang kakek tua penghuni desa itu. Dengan perlahan ia menyapa:” sedang apa kamu? Kelihatan bersedih”, Tanya kakek tua itu. “ aku bersedih kek, karena aku tidak ikut ke pesta di rumah paman”, jawabnya.”lalu apa yang bisa kakek Bantu?” Tanya kakek itu.” Tolonglah kek, agar aku bisa mempunyai sayap dan tidak menjadi beban bagi orang lain”. Mendengar ucapan ini, kakek tua yang juga makhluk gaib itu melakukan usahanya untuk mengubah Anduhur menjadi seekor burung. Prosesnya tidak lama. Mula-mula ia mengisi kuali besar dengan air bunga. Dan Anduhur berenang kedalamnya selama tiga tahap. Tahap pertama terjadi perubahan bagian kepala menjadi bentuk kepala burung, tahap kedua perubahan perut dan tangannya dan terakhir perubahan kakinya. Nah, sekarang kakek bertanya:” apakah ada penyesalan mu setelah engkau berubah menjadi burung? Tidak kek, jawabnya. Kalau begitu cobalah melompat dan kembangkan sayapmu”, kata kakek itu. Anduhur mencobanya dan ia bisa hinggap di suatu dahan pohon.” Trimakasih kek, kata Anduhur. Ia pergi menuju ke tempat pamannya dengan mudah.

Anduhur sampai di pesta. Ia terbang berkeliling di ruang pesta itu sambil menyanyikan:” aku ikut! Aku iku!. Melihat ulah Anduhur yang aneh segenap undangan terharu dan heran, sehingga Anduhur menjadi pusat perhatian ketika itu.

Sekitar pukul 6 sore, pesta itu usai. Segenap undangan telah pulang. Dan kini giliran keluarga Anduhur untuk berpamitan. Paman Anduhur menitipkan oleh-oleh untuknya, karena bagaimana juga ia adalah keponakannya.

Di remang-remang malam, keluarga Anduhur pulang ke rumah, sedang Anduhur sudah terlebih dahulu sampai kesana. Tatkala keluarganya hampir tiba di rumah, Anduhur sudah terlebih dahulu sampai disana. Tatkala keluarganya hamper tiba di rumah, Anduhur bernyanyi:”aku ikut!! Aku ikut!!”.” Aneh! Tadi di pesta ada juga burung bertingkah seperti ini”, kata ibunya keheranan. Tetapi, naluri seorang ibu memang tidak bisa di bohongi. Ibu Anduhur menangis terisak-isak karena memang Anduhurlah yang menjadi Burung Balam itu. “ Maafkan ibu nak”, kata ibunya. “ ibu tidak bermaksud melukai perasaanmu tetapi ibu tidak kuat membawamu.” Ini ada oleh-oleh sebuah kalung dari pamanmu”. Lalu ibu Anduhur menyangkutkannya di ranting pohon. Anduhur datang dan memakainya di lehernya. Ia melompat ke dahan pohon kian tinggi dan bernyanyi” aku ikut!! Aku ikut!!

Blog Advertising

July 03, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 30

Rindu Pulang

Kita semua tentu mengenal garam. Bahkan ketika kita masih duduk di bangku SD, guru menjelaskan bahwa garam berasal dari air laut yang di endapkan. Ini hanya mengenang pelajaran yang disampaikan oleh guru dahulu.

Pada suatu peristiwa, bahagian air laut berhasrat merantau ke daratan. Lalu diapun bermohon kepada penambang garam agar dirinya di ubah menjadi garam. Terjadilah dialog antara keduanya. Air laut berkata:” Pak, saya minta tolong agar bapak menjadikan saya mengkristal”. Penambang itu menjawab:” Apakah kamu tidak menyesal kemudian?”.”Tidak pak, hal itu sudah saya fikirkan sebelumnya”, sahut air laut. “baiklah”, kata penambang, tak lama kemudian air laut itu pun berubah menjadi garam. Namun, sebelumnya ia sempat mengucapkan salam perpisahan kepada saudara-saudaranya di laut.”sampai jumpa!” teriaknya.

Dengan angkutan darat, garam itu di bawa ke suatu tempat yang di sterilkan. Dan, kini garam siap di distribusikan ketoko-toko perkotaan. Alangkah gembiranya ia melihat , sejenak ia melupakan perasaannya di laut yang gerah oleh sengatan sinar matahari.

Tak berapa lama kemudian, garam di bawa oleh seorang ibu ke desa. Dengan angkutan pedesaan, garam di tempatkan bersama benda lainnya seperti terasi, ikan, dan lain-lain. Akhirnya ia sampai ke suatu rumah penduduk. Ia di bawa ke ruang berdebu, berkarat. Padahal di dekatnya banyak benda lain di tempatkan di tempatkan di atas rak-rak berkilat.

Pada suatu malam ia bersedih mengenang saudara-saudaranya di laut. Dia bermimpi bahwa teman-temannya ingin menanyakan keadaannya, tetapi sejenak kemudian ia terjaga dari tidurnya dan berteriak:” aku mau pulang!!
Blog Advertising

July 02, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 29

Kurang Wawasan

Berhektar-hektar lahan terhampar luas di perbukitan desaku. Lahan luas seolah tiada bertuan itu telah menjadi tempat untuk mengembala ternak seperti kerbau, sapi, dan kambing. Kebetulan dari tengah lahan itu ada jalan kecil berbatuan, dan lambat laun jalan itu bertambah lebar karena terinjak-injak oleh kaki dari ratusan ternak setiap hari yang melintas disana. Aku pun melintas di jalan ini ketika masih bersekolah di SD sekitar tahun 70-an. Pemilik lahan itu pun, Pak Parto namanya, tidak keberatan lahannya dijadikan tempat mengembala ternak. Apalagi, lahan itu memang terdiri dari tanah liat dan dipenuhi rumput dan ilalang. Pada saat itu, jenis lahan seperti ini banyak yang di abaikan warga karena di anggap lahan tidak produltif.

Aku masih mengenal seorang penjaga ikan namanya Singkek. Ia seorang keturunan Tionghoa dengan sepeda buruknya membonceng keranjang ikan, berkeliling menjajakan ikannya hingga ke desaku.

Sejak tamat SD hingga lulus SMA, aku tidak berada di desaku. Kurang lebihsepuluh tahun aku tinggal di desaku tercinta.

Suatu hari, setelah menamatkan SMA, aku pulang ke desaku. Aku sempatkan berjalan-jalan melepas rindu. Aku memandang lahan yang luas dahulu yang sempat berkesan dalam ingatanku.

Aku terkejut ketika aku memandang perbukitan yang dahulu tempat mengembala ternak dan terlantar, kini telah menjadi hijau kerena daun pepohonan kelapa sawit yang tumbuh subur menutupinya.

Aku berlari pulang menemui orangtuaku. Sesampainya di rumah, aku bertanya kepada ibuku”.Siapa yang menanam kelapa sawit di perbukitan itu?” tanyaku.” Mungkin kau masih ingat orang yang dahulu selalu berkeliling menjual ikan, namanya Singkek”. “ya…ya…” kataku. Dialah yang membeli lahan perbukitan itu dan mengolahnya menjadi kebun kelapa sawit itu, murah loh harganya. Dia sekarang menjadi kaya karena produksi sawitnya.

Singkek, seorang penjaja ikan dengan menggunakan sepeda bototnya dahulu, kini telah memiliki mobil kijang pribadi dan truk pengangkut buah kelapa sawitnya ke pabrik. Dia juga menyerap tenaga kerja untuk memanen buah sawitnya dari desaku. Diam-diam aku bertanya dalam hati:”dimanakah kekurangan warga desaku?”

Blog Advertising

June 29, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 28

Seratus Persen Rahasia

Di zaman dahulu, sering terjadi perselisihan suatu kerajaan dengan kerajaan yang lain untuk memperebutkan suatu wilayah. Namun, tidak selamanya untuk maksud tersebut, harus dengan adu kekuatan fisik. Bisa saja untuk kepentingan itu ditempuh dengan mengadakan perlombaan jenis perlombaannya tergantung kepada kesepakatan bersama. Ada kalanya berbentuk pencak silat dan berdiplomasi.

Kebetulan pada suatu hari, Raja Namora dengan Raja Napogos berselisih paham tentang batas-batas wilayah masing-masing. Raja Namora, yang walaupun daerah kekuasaannya sudah luas, tetap saja masih bernafsu untuk merebut wilayah Raja Napogos.

Terjadilah polemik diantara kedua raja, dan untuk kali ini, masing-masing raja mengutus ajudan mengadakan temu wicara di tempat tertentu yang telah di sepakati kedua belah pihak.

Ajudan dari Raja Namora mulai angkat bicara:” begini saudara.” Kata ajudan Raja Namora saya adalah orang terdekat dengan raja, demikian juga saudara-saudara.” Kalau boleh tahu, dimanakah raja itu beristirahat di waktu malam?” tanyanya dengan rayuan, “ sebentar” kata ajudan Raja Napogos. Seolah-olah ia ingin menjelaskan hal itu. “ begini saudara.” Sebelum saya menjawab pertanyaan saudara, apakah saudara bisa menjaga rahasia?” katanya,” saya akan bersumpah untuk menjaga rahasia kita berdua sampai kapan pun.” Jawabnya. “Nah, kalau begitu, sebaiknya saudara pulang saja,” katanya. “ mengapa demikian, ajudan?” Tanya ajudan Raja Namora.” Karena ternyata saya pun demikian juga.” Balasnya.

Karena ajudan Raja Napogos berhasil mengunci pertanyaan dari Raja Namora, maka diplomasi dinyatakan dimenangkan oleh Raja Napogos, wilayah yang di perselisihkan pun jatuh ketangan Raja Napogos.
Blog Advertising

June 28, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 27

Tragedi

Selama bertahun-tahun, Pak Latif seorang saudagar kain, dikenal sebagai orang terpandang di kota itu. Dia selalu tampak sumringah, kalem dan pengalah. Tetapi akhir-akhir ini, tampak ada keanehan dalam kehidupan rumah tangga mereka. Beberapa bulan terakhir ini, istri Pak latif jarang sekali kelihatan. Ia menghilang tanpa diketahui tetangganya, terutama ibu-ibu.

Ada sebuah rumor jelek mengatakan bahwa istri Pak Latif sering meninggalkannya, pergi bersama wanita-wanita lain yang keberadaannya setaraf dengannya, lagipula Bapak dan Ibu Latif hingga kini belum juga mempunyai momongan dari pernikahan mereka, sehingga mereka masing-masing mencari kesibukan sendiri.

Beberapa hari terakhir ini, orang-orang oleh sikap Pak Latif. Sikapnya yang dahulu tenang dan pengalah kini jadi mudah marah dan penantang, bukan hanya itu ia juga sering mabuk-mabukan.

Pada suatu malam, mobil patroli polisi melintas di depan rumah mereka. Polisi patroli yang berjumlah 4 orang itu kaget oleh suatu pandangan aneh ketika mereka menoleh ke arah Balkon rumah Pak Latif. Mula-mula terdengar suara teriakan dan tak lama kemudian terdengar suara ledakan. Polisi-polisi itu bersembunyi di belakang mobil; kembali terjadi penembakan seorang diantara mereka yang terkena pluru nyasar tepat pada betisnya. Polisi lainnya membuka paksa pintu rumah pak latif. Akhirnya mereka masuk dan terus menaiki tangga, mereka menemukan Pak Latif terkulai tidak bernyawa lagi. Di Balkon rumahnya berserakan botol-botol minuman keras. Di duga Pak latif mabuk berat sebelum bunuh diri.

Blog Advertising

June 27, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 26

Keluar Dari Ketakutan

Telah bertahun-tahun rumah tangga Pak Nardi dan ibu Nani tidak harmonis. Pasalnya ibu Nani adalah sosok wanita yang rewel dan cerewet. Sedang Pak Nardi adalah seorang yang sabar dan tenang. Pekerjaan Pak Nardi hanyalah sopir ambulan disuatu rumah sakit bersalin .

Bertubi-tubi cercaan dan hinaan telah diderita Pak Nardi. Apalagi ia sering telat pulang hingga larut malam. Dengan penghasilan yang Cuma pas-pasan dan dapat menyekolahkan dua orang anak yang masih SD, Pak Nardi hanya bisa bersyukur kepada Tuhan . Tetapi sebaliknya Ibu Nani, istrinya seorang yang gila harta. Ucapan seperti bodoh, loyon konyol, dan sebagainya adalah santapan rutin Pak Nardi .

Pada suatu malam, ketika Pak Nardi pulang malam, dia ditemui oleh seorang bertubuh besar dan berjubah warna putih. Tiba-tiba dia berkata; ‘Aku ingin menemaniku pulang.’ Tapi anehnya dia melangkah begitu cepatnya, sehingga Pak Nardi jauh tertinggal di belakangnya .

Sesampainya dirumah Pak Nardi, orang tersebut mengetuk pintu rumah Pak Nardi . Setelah Ibu Nani membuka pintu rumahnya, dia terperanjat melihat wajah orang ini seperti pocong. Ibu Nardi menjerit-jerit ketakutan dan kembali masuk kekamarnya.kemudian orang itu menghilang .

Pak Nardi mempercepat langkahnya. Dari kejauhan ia heran melihat pintu rumahnya terbuka lebar. Pak Nardi bergegas memasuki rumahnya dan memanggil istrinya yang tengah berbaring ketakutan di kamarnya; “Bu…Bu….teriak Pak Nardi memangil istrinya.” Perlahan Ibu Nardi membuka pintu dan menceritakan hal yang baru saja ia alami. Mendengar cerita Ibu Nani Pak Nardi berkata; “ Ibu mimpi kali”

Sejak peristiwa itu hingga seterusnya, Ibu Nani tidak mau mengeluarkan kata-kata penghinaan lagi kepada Pak Nardi.

Blog Advertising

June 26, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 25

Kuda dan Tuannya


Dalam suatu perjalanan panjang, seorang penunggang kuda pergi dengan kudanya. Beberapa tempat sudah dilalui sehingga sampailah mereka di depan mesjid. Ketika adzan berkumandang, beramai-ramai warga pergi ke mesjid untuk sholat. Kuda itu bertanya kepada tuannya, “ tuan kita istirahat disini? mengapa? kata tuanya. “ Apa tuan tidak sholat?” tidak. Perjalanan dilanjutkan sehingga tiba di depan sebuah gereja. Kuda bertanya lagi.”tuan, inikah tempat tuan beribadah?”:tidak”, jawab tuannya. Akhirnya perjalannya dilanjutkan. Didalam perjalanan, kuda itu bertanya-tanya dalam hati. Mengapa tuanku ini? Kok aneh?. Begitu ia membayangkan perihal tuannya, mereka sampai ke sebuah tempat ibadah, sebuah pura.:berhenti, kata tuannya”. Saya lelah, dan sebentar lagi kita lanjutkan perjalanan kita. Dengan penuh penasaran kuda itu pun bertanya.”tuan, apakah ini tempat ibadah tuan?”emangnya kenapa? Tanya tuannya”begini tuan, kalau tuan nanti ibadah, aku berkesempatan melepas lelah dan mengisi perut saya. Kebetulan di lingkungan tersebut banyak tumbuh rumput-rumput segar.” Ah, kau banyak pertanyaan, kata tuannya, ayo, lanjutkan perjalanan.” Kata tuannya. Kuda itu berkata dalam hatinya, kalau begitu tuanku ini tidak ada bedanya denganku
Blog Advertising

June 25, 2009

Liburan

Pertengahan tahun, atau tepatnya selesai Ujian Nasional (UN) para pelajar dari berbagai tingkatan, tumpah kekota dan memadati tempat-tempat rekreasi dalam masa liburan tahun ini. Sebahagian pergi ke Mall, ke Swalayan, ketaman-taman bunga, ke kebun binatang, dan lain sebagainya. Adapula sebagian lainnya pergi ke tempat yang lebih jauh dari keramaian kota, ke pegunungan, menghirup udara segar di alam terbuka, bahkan sebagian lain memanfaatkan liburan dengan berolah raga, jadi tergantung kepada minat seseorang. Bagaimana juga untuk pergi berlibur tidak terlepas dari dana alias uang. Paling tidak kita harus sediakan ongkos angkot dan uang jajan. Bagi yang tidak mempunyai uang atau fulus jangan berkecil hati kita bisa pergi kekebun, menanam bunga, sayur mayor. Bagi yang memiliki sawah, bisa mencari ikan dengan memancing.

Blog Advertising

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 24

Kanan Kiri

Sekelompok pemuda dan pemudi dari sebuah Sanggar Remaja ingin berlatih tarian dari seorang guru . Guru itu berasal dari kota tak jauh dari Sanggar Remaja itu . ‘Hari ini kita mulai dengan latihan cara melangkah , apabila hari ini hasilnya baik,besok dilanjutkan dengan gerakan lain .’ Demikian kata pelatih itu .‘Berbaris lurus , ambil jarak dan ikuti, instruksi ,oke…..mulai…, kanan…, kanan… kiri .’
Peserta latihan tari itu kebingungan karena biasa disekolah guru senam mengatakan , kanan…kiri..kanan..kiri kanan .’ Selesai latihan pelatih yang juga seorang guru itu mengatakan bahwa latihan hari ini jelek,besok akan dilanjutkan,tetapi pelajaran tidak ditambah , katanya . Beberapa perserta latihan protes, ‘mengapa tidak ditambah,pak? ‘ kata mereka . ‘Karena kamu masih belum bisa membedakan kanan dan kiri ,bukan begitu pak ,kata mereka ,’ soalnya mengapa tidak bapak mulai dengan langkah kiri dulu .’ Tanya mereka .’ Begini ,saatnya nanti kamu akan berlatih menghadap kaca lebar , sehingga kamu akan melihatnya melalui kaca .’ O,begitu,’ kata mereka dengan agak tercengang.





Blog Advertising

June 24, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 23

Kelinci Yang Cerdik


Di dalam suatu hutan pegunungan, hidup seekor singa beringas . Binatang-binatang dihutan itu sudah hampir punah karena keberingasannya . Untuk menjaga kelestarian binatang dihutan itu , mereka membuat suatu usul kepada singa beringas itu , agar tidak membunuh binatang-binatang sekaligus , tetapi secara bertahap . Usul mereka diterima oleh singa beringas itu .

Secara sukarela satu demi satu binatang itu mengorbankan kelinci . Kelinci-kelinci rela untuk dikorbankan terlebih dahulu sebelum kelompok laiinya mendapat giliran .

Pada suatu hari , disaat singa beringas itu merasa sangat lapar , kelinci itu datang terlambat . Singa beringas itu bertanya :’ mengapa kedatanganmu terlambat? ‘ ,’maaf, tuan ,saya bukan sengaja terlambat datang , saya bertemu seekor singa ditengah jalan dan dia menahanku .’ Mendengar ucapan kelinci ini , singa beringas itu tersinggung dan bertanya : ‘ apa benar ada singa yang lebih berkuasa dari ku? ,coba tunjukkan padaku ,’ kata singa beringas itu . Dengan serta merta kelinci itu menunjukkan sebuah sumur yang airnya jernih . ‘itulah tuan singa yang menahanku tadi ,’ kata kelinci . Tanpa berfikir panjang , singa beringas itu terjun kedalam nya dan dia tenggelam kemudian mati….


Blog Advertising

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 22

Salah Duga

Pak Oleng ingin makan dan minum direstoran dengan mengendarai sepeda motornya, dia pergi seorang diri, tak berapa lama tibalah dia di sebuah restoran yang cukup terkenal dikota itu . Dia berhenti dan memarkirkan sepeda motornya , lalu dia masuk kedalam restoran itu dan mengambil tempat duduk . Sesaat kemudian, seorang pelayan menyodorkan daftar menu makanan dan minuman : ‘Pesan apa, pak’ , Tanya pelayan itu . Pak Oleng membaca daftar menu dan menyebutkan pesanannya, dia berkata : ‘ 3 gelas jus pokat, 2 piring nasi, dan 3 mangkok sop buntut ‘ . ‘ Baik pak, ‘ kata pelayan itu . Setelah setengah jam menunggu, pesanan Pak Oleng tidak juga kunjung datang . Dia berdiri dan mendatangi pelayan itu . Dengan sedikit kesal Pak Oleng berkata : ‘Mana pesanan saya ?’ , tanyanya .Pelayan itu menjawab , ‘ teman bapak mana? ,bapak pesan 3 gelas jus , kan?’ . Pak Oleng menjelaskan : ‘ Teman saya tidak ada, saya sendiri ‘. Pelayan kembali bertanya : ‘ Kenapa bapak pesan 3 gelas ? saya kira bapak menunggu teman bapak . ‘Tidak, kata Pak Oleng ‘,itu untuk saya sendiri . Pelayan itu segera melayani Pak Oleng dengan keheranan



Blog Advertising

June 23, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 21

Perut, Tangan, Kaki, dan Kepala

Pada suatu ketika terjadi pertengkaran diantara perut dan anggota tubuh lainnya. Mula-mula kedua tangan berkata,:” mengapa kita saja yang mengerjakan tugas-tugas setiap hari, sementara perust istirahat tenang-tenang saja?”, mendengar hal itu, lalu kaki ikut protes.:” betul !” mengapa kita saja yang berjalan, membawa tubuh ini kesana kemari, dan si perut tidak ada kegiatannya. Setelah itu kepala pun berkomentar, :” lihatlah saya setiap hari berfikir, mendengarkan, dan menoleh kesana kemari. Perut begitu tenang bermalas malas, terima bersih saja.” Tangan kaki dan kepala bersepakat untuk memberi pelajaran kepada perut, kaki berjanji tidak mau mencari usaha, tangan akan tidak mau membuat persiapan apa pun dan kepala tidak mau memikirkan apa pun. Dengan demikian perut akan keroncongan, akan tetapi telah berlangsung tiga hari, semua anggota tubuh menjadi lemah dan akhirnya jatuh sakit. Dengan segera anggota tubuh tangan, kaki, dan kepala menyerah dan mengakui akan pentingnya keberadaan, dan perut diantara anggota tubuh lainnya.

Blog Advertising

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 21

Pengacara Curang

Rendi melaporkan keberatannya ke seorang pengacara untuk diteruskan ke persidangan sebagai pembela. Melihat keadaan yang meruncing ini, Pardi pun mencari pembela di persidangan. Pembela itu mengatakan kepada Pardi:” apabila di persidangan dipertanyakan tentang mu, engkau harus bersikap tolol dan bisu. Ucapkan wa wa wa..

Persidangan diadakan, hakim bertanya kepada Pardi tentang pengembalian hutangnya kepada Rendi, dia berpura-pura bengong dan mengucapkan wa wa wa.

Kemudian hakim mengatakan bahwa Pardi sudah tidak waras. Keputusan Hakim bahwa Rendi bersalah, karena meminjamkan uang kepada orang yang tidak waras. Sesudah persidangan usai, pembela Pardi mendatanginya untuk mendapat imbalan, tetapi ketika ia tanyakan kepadanya, Pardi kembali mengucapkan wa wa wa dengan pendangan bodoh yang dia perbuat di persidangan lalu.




Blog Advertising

June 22, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 20

Kecerobohan

Badrun sejak berumur 6 tahun tidur bersama kakek nenek nya, dia mempunyai sebuah seruling bamboo, walaupun tidak begitu pandai bermain seruling, Badrun sangat menyukai serulingnya . Apabila tidur dia menaruh seruling dibawah bantalnya .

Suatu malam dia tidur bersama ayah dan ibunya , mereka tidu dalam satu kelambu, yaitu Ayah, Ibu Badrun dan Badrun . Tiba-tiba Bandrun tersentak dari tidurnya karena dia bermimpi bahwa serulingnya hilang sesegera mungkin Badrun mengambil lampu semprong dan mengangkatnya sembari mencari serulingnya . Karena terlalu dekat dengan kain kelambu itu, api lampu pun menyulut kelambu dan terjadilah kebakaran. Ayah dan ibu Badrun melompat keluar tempat tidur dan mengambil air lalu menyiram api yang menyala tadi . Tak berapa lama api sempat di padamkan.

Setelah api padam,ayah dan ibu mencari Badrun . Karena rumah kakek Badrun tidak jauh dari tempat itu, Badrun pun berlari menemui kakek dan neneknya .Tak berapa lama kemudian nenek nya dating menggendong Badrun . Ibu Badrun merasa lega karena Badrun selamat dalam peristiwa itu .

Blog Advertising

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 19

Kalah Siasat


Pada suatu jalan yang sempit, bertemulah dua ekor kambing jantan berbulu hitam dan berbulu putih. Diantara kedua kambing ini tidak ada yang mau mengalah mundur, akhirnya terjadilah pertarungan yang dahsyat . Karena kambing hitam bertubuh besar,akhirnya kambing putih kalah dan mundur jauh ke belakang.

Keesokan harinya kambing putih datang kepada tuannya. Mendengar keluhan kambing putih itu, tuannya tidak tinggal diam, “ baiklah , “ kata tuannya . Besok kita akan buat perhitungan dengan sihitam itu ..

Pengaduan kambing putih itu terdengar juga oleh sikambing hitam. Kambing hitam membicarakan rencana balasan dari kambing putih. Kambing hitam menyiapkan kambing yang bertubuh besar dan bertanduk panjang . Akhirnya terjadilah saat yang mendebarkan ,kambing jantan putih diperlengkapin oleh tuannya memakai topeng harimau yang menyeramkan . Dari kejauhan terlihat pasukan kambing hitam memandang kearah pasukan kambing putih . Dengan kepercayaan diri, kambing putih mendatangi kambing hitam, melihat topeng itu, doa tidak berfikir panjang, pasukan kambing hitam kabur tidak tentu arah .




Blog Advertising

June 21, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 18

Gagal

Karena kebutuhan yang mendesak,suatu malam Pak Said pergi ke kota untuk menarik uangnya dari ATM di Bank .Rupa-rupanya kepergian Pak Said ini telah di buntutin oleh dua orang perampok . Perampok-perampok itu mengamati Pak Said sejak keluar mobil,masuk ke bilik ATM dan keluar menuju mobilnya . Karena terburu-buru Pak Said tidak sempat mengunci pintu mobilnya .Seorang dari perampok itu masuk kemobil Pak Said tanpa diketahuinya . Ketika Pak Said menuju arah pulang, dia terkejut melihat seorang berada di belakanganya dan menodongkan sebilah pisau kearah lehernya . Dengan cepat Pak Said memicu mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga suara mobilnya yang menderu menarik perhatian polisi yang berpatroli di jalan . Dari kejauhan terlihat mobil patroli mengejar mobil Pak Said lalu dia memperlambat laju mobilnya. Melihat kejadian ini, perampok bersembunyi kedalam mobil itu : ‘ stop ! ‘ kata seorang polisi itu . ‘Tolong perlihatkan SIM bapak .’Kemudian Pak Said menyerahkan SIM dan STNK mobilnya . Ketika berhadapan dengan polisi, Pak Said membisikkan kepada polisi tersebut bahwa ada perampok didalam mobilnya . akhirnya polisi berhasil meringkus perampok itu dan Pak Said di bebaskan pulang kerumahnya .

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 17

Lupa Dikarenakan Nikmat

Pak Robin mempunyai seekor kuda, ia selalu menunggangi kudanya apabila akan pergi ketempat tujuannya. Biasanya jarak yang ditempuh dari kota ke rumahnya hanya memerlukan waktu setengah jam saja.

Pada suatu hari, pak Robin pergi menjual dagangannya ke kota. Dia menaruh tas yang berisi perlengkapan dapur seperti: panic, periuk, piring, sendok, dan garpu dan menaruhnya di atas punggung kudanya. Pak Robin juga seorang perokok berat. Ketika ia berada diatas punggung kudanya mulai mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dangan koreknya. Akan tetapi, pada saat itu angina berhembus berlawanan arah, dengan demikian ia tidak bias menghidupkan api koreknya. Dengan sedikit emosi ia menghentikan kudanya dan memutar arah berlawanan dengan arah angina berhembus, sekarang ia merasakan kenikmatan karena dia berhasil menyalakan rokoknya.

Setelah sepuluh menit berada di punggung kudanya alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa ia kembali ke rumahnya dan tidak sampai ketempat tujuannya. Seseorang melihat Pak Robin dalam keadaan bengong, lalu ia bertanya:”ada apa.pak,kelihatannya ada sesuatu yang terjadi? Pak Robin menjawab :’saya heran.kenapa kuda saya hari ini menjadi tolol .’