July 04, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 31

Anduhur Menjadi Balam

Aku ikut! Aku ikut!! Demikian teriakan Anduhur ketika orang tua dan saudara-saudaranya pergi ke pesta di kediaman pamannya.

Kisah Anduhur ini pada awalnya adalah sebagai berikut. Nun jauh di relung desa terpencil, hidup sebuah keluarga kecil. Anduhur adalah anak bungsu dari empat orang bersaudara. Mereka tinggal di sebuah rumah tua. Sebenarnya rumah tersebut disebut tua karena bahannya yang terbuat dari bamboo, cukup awet, tidak lapuk meskipun usianya telah puluhan tahun. Bentuk rumah itu cukup besar dan tertata rapi. Apalagi ayah Anduhur adalah seorang pengerajin bambu yang handal, tentu sangat pandai memilih bambu yang berkualitas.

Karena takdir, Anduhur menjadi seorang bertubuh kerdil dan pendek, maka tak jarang saudara-saudaranya memanggilnya ‘si cebol’. Sedang saudara-saudaranya bertubuh wajar dan normal. Kini usia Anduhur duabelas tahun dan masih tetap cebol. Meskipun Anduhur demikian keadaannya, sikap orang tuanya tidak merendahkannya. Paling-paling Anduhur selalu di suruh tinggal di rumah, membereskan perkarangan dan merebus air. Kalau Anduhur harus bergabung dengan keluarganya kemana-mana tentu dia harus di gendong.

Pada suatu ketika, paman Anduhur mengadakan pesta perkawian putrinya. Anduhur mengenal baik sepupunya itu. Sehingga, ia sangat berhasrat untuk dapat hadir di pestanya nanti. Apa boleh buat, Anduhur harus tetap berada di rumah dengan alas an tidak ada saudara-saudaranya yang sanggup menggendongnya. Ibunya yang sudah lanjut usia malah tak mungkin menggendong Anduhur. Pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju rumah pamannya.

Kini tinggallah Anduhur seorang diri di keheningan desa itu, dia duduk di emperan rumahnya. Yang terdengar hanya kicau burung bersahut-sahutan seolah ikut merasakan kepiluan hatinya. Dengan linangan air mata, ia melontarkan nyanyian; aku ikut!...aku ikut! Oh, ibu… aku ikut! Ternyata jeritan hatinya terdengar oleh seorang kakek tua penghuni desa itu. Dengan perlahan ia menyapa:” sedang apa kamu? Kelihatan bersedih”, Tanya kakek tua itu. “ aku bersedih kek, karena aku tidak ikut ke pesta di rumah paman”, jawabnya.”lalu apa yang bisa kakek Bantu?” Tanya kakek itu.” Tolonglah kek, agar aku bisa mempunyai sayap dan tidak menjadi beban bagi orang lain”. Mendengar ucapan ini, kakek tua yang juga makhluk gaib itu melakukan usahanya untuk mengubah Anduhur menjadi seekor burung. Prosesnya tidak lama. Mula-mula ia mengisi kuali besar dengan air bunga. Dan Anduhur berenang kedalamnya selama tiga tahap. Tahap pertama terjadi perubahan bagian kepala menjadi bentuk kepala burung, tahap kedua perubahan perut dan tangannya dan terakhir perubahan kakinya. Nah, sekarang kakek bertanya:” apakah ada penyesalan mu setelah engkau berubah menjadi burung? Tidak kek, jawabnya. Kalau begitu cobalah melompat dan kembangkan sayapmu”, kata kakek itu. Anduhur mencobanya dan ia bisa hinggap di suatu dahan pohon.” Trimakasih kek, kata Anduhur. Ia pergi menuju ke tempat pamannya dengan mudah.

Anduhur sampai di pesta. Ia terbang berkeliling di ruang pesta itu sambil menyanyikan:” aku ikut! Aku iku!. Melihat ulah Anduhur yang aneh segenap undangan terharu dan heran, sehingga Anduhur menjadi pusat perhatian ketika itu.

Sekitar pukul 6 sore, pesta itu usai. Segenap undangan telah pulang. Dan kini giliran keluarga Anduhur untuk berpamitan. Paman Anduhur menitipkan oleh-oleh untuknya, karena bagaimana juga ia adalah keponakannya.

Di remang-remang malam, keluarga Anduhur pulang ke rumah, sedang Anduhur sudah terlebih dahulu sampai kesana. Tatkala keluarganya hampir tiba di rumah, Anduhur sudah terlebih dahulu sampai disana. Tatkala keluarganya hamper tiba di rumah, Anduhur bernyanyi:”aku ikut!! Aku ikut!!”.” Aneh! Tadi di pesta ada juga burung bertingkah seperti ini”, kata ibunya keheranan. Tetapi, naluri seorang ibu memang tidak bisa di bohongi. Ibu Anduhur menangis terisak-isak karena memang Anduhurlah yang menjadi Burung Balam itu. “ Maafkan ibu nak”, kata ibunya. “ ibu tidak bermaksud melukai perasaanmu tetapi ibu tidak kuat membawamu.” Ini ada oleh-oleh sebuah kalung dari pamanmu”. Lalu ibu Anduhur menyangkutkannya di ranting pohon. Anduhur datang dan memakainya di lehernya. Ia melompat ke dahan pohon kian tinggi dan bernyanyi” aku ikut!! Aku ikut!!

Blog Advertising

No comments:

Post a Comment