July 02, 2009

Cerita Pendek ( CERPEN) Vol 29

Kurang Wawasan

Berhektar-hektar lahan terhampar luas di perbukitan desaku. Lahan luas seolah tiada bertuan itu telah menjadi tempat untuk mengembala ternak seperti kerbau, sapi, dan kambing. Kebetulan dari tengah lahan itu ada jalan kecil berbatuan, dan lambat laun jalan itu bertambah lebar karena terinjak-injak oleh kaki dari ratusan ternak setiap hari yang melintas disana. Aku pun melintas di jalan ini ketika masih bersekolah di SD sekitar tahun 70-an. Pemilik lahan itu pun, Pak Parto namanya, tidak keberatan lahannya dijadikan tempat mengembala ternak. Apalagi, lahan itu memang terdiri dari tanah liat dan dipenuhi rumput dan ilalang. Pada saat itu, jenis lahan seperti ini banyak yang di abaikan warga karena di anggap lahan tidak produltif.

Aku masih mengenal seorang penjaga ikan namanya Singkek. Ia seorang keturunan Tionghoa dengan sepeda buruknya membonceng keranjang ikan, berkeliling menjajakan ikannya hingga ke desaku.

Sejak tamat SD hingga lulus SMA, aku tidak berada di desaku. Kurang lebihsepuluh tahun aku tinggal di desaku tercinta.

Suatu hari, setelah menamatkan SMA, aku pulang ke desaku. Aku sempatkan berjalan-jalan melepas rindu. Aku memandang lahan yang luas dahulu yang sempat berkesan dalam ingatanku.

Aku terkejut ketika aku memandang perbukitan yang dahulu tempat mengembala ternak dan terlantar, kini telah menjadi hijau kerena daun pepohonan kelapa sawit yang tumbuh subur menutupinya.

Aku berlari pulang menemui orangtuaku. Sesampainya di rumah, aku bertanya kepada ibuku”.Siapa yang menanam kelapa sawit di perbukitan itu?” tanyaku.” Mungkin kau masih ingat orang yang dahulu selalu berkeliling menjual ikan, namanya Singkek”. “ya…ya…” kataku. Dialah yang membeli lahan perbukitan itu dan mengolahnya menjadi kebun kelapa sawit itu, murah loh harganya. Dia sekarang menjadi kaya karena produksi sawitnya.

Singkek, seorang penjaja ikan dengan menggunakan sepeda bototnya dahulu, kini telah memiliki mobil kijang pribadi dan truk pengangkut buah kelapa sawitnya ke pabrik. Dia juga menyerap tenaga kerja untuk memanen buah sawitnya dari desaku. Diam-diam aku bertanya dalam hati:”dimanakah kekurangan warga desaku?”

Blog Advertising

2 comments:

  1. perlunya wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat pedesaan agar mereka bisa lebih berkembang dan tidak tergiur kepada gemerlap kota

    tapi jangan sampai membuka lahan perkebunan sawit menghancurkan hutan yang ada

    ReplyDelete
  2. emm, sy mw tny dulu, maksud kalimat terakhir dr cerpen di atas gmana ya? koq nda begitu mudheng...
    tp selaku pembela hutan, sy cukup mnyayangkan makin luasnya perkebunan kelapa sawit yg menggusur areal hutan n perbukitan hijau di Indonesia. nah klo uda gitu kan kasiyan juga sm ekosistem yg tinggal di dalamnya ... hehehe ini cm opini pribadi low

    ReplyDelete